REVIEW : MODEL, PENDEKATAN, DAN TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN DI PERGURUAN TINGGI
Judul Artikel : MODEL, PENDEKATAN, DAN TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN DI PERGURUAN TINGGI
Penulis : Retno Djohar Juliani
Jurnal Penerbit : jurnal.unpand.ac.id
Volume, Nomor, Tahun : Vol 10, No. 22, Tahun 2012
Link Artikel : http://jurnal.unpand.ac.id/index.php/dinsain/issue/view/3
Maksud dari tulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana model, pendekatan dan teknik supervisi pendidikan yang ada di perguruan tinggi.
PENDAHULUAN :
Perubahan perilaku dari mahasiswa dapat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, dan pengalaman yang dimiliki oleh dosen, dengan demikian dosen dituntut harus mempunyai perilaku yang baik agar dapat menjadi contoh bagi peserta didik, karena pada dasarnya dosen adalah representasi dari sekelompok orang pada suatu komunitas atau masyarakat yang dapat dijadikan teladan di bidang pendidikan. Kemampuan seorang dosen dalam mengajar sangat berpengaruh terhadap hasil belajar mahasiswa. Oleh karena itu untuk menjadi dosen yang profesional maka sudah seharusnya selalu meningkatkan wawasan pengetahuan akademisnya baik melalui jalur pendidikan berjenjang ataupun melalui pelatihan- pelatihan, seminar yang bersifat in service training dengan teman sejawat maupun mengikuti pelatihan atau seminar yang dilaksanakan oleh eksternal lembaga.
Seorang dosen dalam melakukan proses pembelajaran maka dapat di supervisi baik oleh teman sejawat, ketua program studi , maupun oleh Pembantu Rektor I bidang akademis. Kegiatan supervisi ini diperlukan agar setiap dosen melaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan ketentuan- ketentuan yang telah ditetapkan oleh lembaga. Dosen sebelum mengajar atau mengampu suatu mata kuliah maka diwajibkan untuk membuat Silabi mata kuliah dan membuat rencana pembelajaran dalam bentuk Satuan Acara Perkuliahan / SAP yang dapat memberi gambaran singkat mengenai acara perkuliahan yang akan dilaksanakannya dalam satu semester.
SUPERVISI PENDIDIKAN
Terdapat beberapa pengertian mengenai supervisi. Menurut Good Carter ( dalam Sahertian, 2008:17) ,supervisi adalah usaha dari petugas- petugas sekolah dalam memimpin guru- guru dan petugas- petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, merevisi tujuan- tujuan pendidikan, bahan pengajaran, metode , dan evaluasi pengajaran. Mc Nerney (dalam Sahertian, 2008 : 17) menyatakan bahwa supervisi adalah suatu prosedur, memberi arah dan mengadakan penilaian secara kritis terhadap proses pengajaran. Menurut Kimball Wiles (dalam Sahertian, 2008 : 18) , supervisi adalah bantuan yang diberikan untuk memperbaiki situasi belajar – mengajar agar dapat menjadi lebih baik. Seorang supervisor yang baik sebaiknya memiliki lima ketrampilan, yaitu: Ketrampilan dalam hubunganhubungan kemanusiaan, Ketrampilan dalam proses kelompok, Ketrampilan dalam kepemimpinan pendidikan, Ketrampilan dalam mengatur tenaga kependidikan, Ketrampilan dalam evaluasi.
Semua definisi tentang supervisi di atas bersifat umum, dan dalam perkembangannya supervisi pendidikan kemudian difokuskan ke dalam batasan yang lebih spesifik, yaitu supervisi pengajaran ( Maryono, 2011 : 18 ). Supervisi pengajaran adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh personalia sekolah untuk memelihara atau mengubah apa yang dilakukan sekolah dengan cara yang langsung mempengaruhi proses belajar mengajar dalam usaha meningkatkan proses belajar siswa.
Dengan demikian supervisi pengajaran dalam sebuah universitas maka berfokus pada perilaku dosen dan perilaku tenaga kependidikan ( tenaga administrasi, laboran, dan pustakawan ) yang mempunyai tujuan akhir adalah untuk mewujudkan harapan belajar mahasiswa. Kegiatan pokok supervisi adalah melakukan pembinaan kepada lembaga pada umumnya dan kepada dosen pada khususnya agar kualitas pembelajarannya meningkat. Sebagai dampak meningkatnya kualitas pembelajaran , tentu dapat meningkat pula prestasi belajar mahasiswa, dan itu berarti akan meningkat pula kualitas lulusan dari lembaga tersebut. Jika perhatian supervisi sudah tertuju pada keberhasilan mahasiswa dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan ketrampilan maka berarti kegiatan supervisi sudah sesuai dengan tujuannya.
Proses Kegiatan Belajar Mengajar/ KBM dalam suatu lembaga perguruan tinggi dewasa ini dapat dilakukan melalui berbagai cara , yakni :
1. Proses pembelajaran yang masih bersifat konvensional ( lebih banyak face to face meeting ) dengan tambahan pembelajaran melalui media interaktif komputer via internet atau menggunakan grafik interaktif komputer.
2. Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode campuran, yakni secara umum sebagian besar proses pembelajaran dilakukan melalui komputer, namun tetap juga memerlukan face to face meeting untuk kepentingan tutorial atau untuk mendiskusikan bahan ajar.
3. Metode pembelajaran yang secara keseluruhan hanya dilakukan secara on- line, dalam metode ini sama sekali tidak ditemukan face to face meeting.
Model- model pembelajaran di atas masing – masing mempunyai sisi kebaikan dan kelemahan. Dalam face to face meeting maka antara dosen dengan mahasiswa dapat berinteraksi secara intens sehingga dimungkinkan mahasiswa mempunyai tingkat pemahaman yang lebih baik terhadap materi perkuliahan. Di dalam face to face meeting maka mahasiswa dapat memperoleh contoh- contoh yang bersifat aplikatif, antara dosen dan mahasiswa dapat mendiskusikan bahan ajar, komunikasi dapat dilakukan secara aktif, dosen dengan mahasiswa saling mengenal bahkan mungkin secara pribadi , selain itu dosen juga sekaligus dapat membangun karakter mahasiswa sehingga tujuan pembelajaran dimungkinkan dapat lebih tercapai yakni mahasiswa dapat memperoleh kemampuan kognitif, afektif , maupun psikomotorik.
HASIL DAN PEMBAHASAN :
MODEL, PENDEKATAN DAN TEKNIK SUPERVISI
Model, pendekatan dan teknik supervisi, dimana ketiga konsep ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Model berasal dari Bahasa Inggris Modle, yang bermakna bentuk atau kerangka sebuah konsep, pola atau acuan, sedangkan pendekatan berasal dari kata approach adalah cara mendekatkan diri kepada objek atau langkah - langkah menuju objek, sementara teknik berasal dari kata technic dapat diartikan metode yang digunakan.
1. Model Supervisi Pendidikan
Model berasal dari Bahasa Inggris Modle ,yang bermakna bentuk atau kerangka sebuah konsep, atau pola. Harjanto mengartikan model sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam melakukan suatu kegiatan. Dalam pengertian lain "model" juga diartikan sebagai barang atau benda tiruan dari benda sesungguhnya,misalnya "globe" merupakan bentuk dari bumi. Dalam uraian selanjutnya istilah "model" digunakan untuk menunjukkan pengertian pertama sebagai kerangka proses pemikiran. Sedangkan "model dasar" dipakai untuk menunjukkan model yang "generik" yang berarti umum dan mendasar yang dijadikan titik tolak pengembangan model lanjut dalam artian lebih rumit dan dalam artian lebih baru. Sahertian (2000) membagi model supervisi menjadi empat bentuk , yakni :
a. Model konvensional (tradisional) : Model ini tidak lain dari refleksi dari kondisi masyarakat pada suatu saat.Pada saat kekuasaan yang otoriter dan feodal, akan berpengaruh pada sikap pemimpin yang otokrat dan korektif. Pemimpin cenderung untuk mencari-cari kesalahan. Perilaku supervisi ialah mengadakan inspeksi untuk mencari kesalahan dan menemukan kesalahan. Kadang-kadang bersifat memata-matai. Perilaku seperti ini disebut snooper vision(memata-matai). Pekerjaan seorang supervisor yang bermaksud hanya untuk mencari kesalahan adalah suatu permulaan yang tidak berhasil.Mencari-cari kesalahan dalam membimbing sangat bertentangan dengan prinsip dan tujuan supervisi pendidikan. Akibatnya yang disupervisi merasa tidak puas dan ada dua sikap yang tampak dalam kinerja yang disupervisi : 1) Acuh tak acuh (masa bodoh), dan (2) Menantang (agresif).Praktek mencari- cari kesalahan dan menekan bawahan ini masih tampak sampai saat ini. Para pengawas datang ke sekolah dan menanyakan mana satuan pelajaran. Ini salah dan seharusnya begini.Praktek-praktek supervisi seperti ini adalah cara memberi supervisi yang konvensional. Ini bukan berarti bahwa tidak boleh menunjukkan kesalahan. Masalahnya ialah bagaimana cara kita mengkomunikasikan apa yang dimaksudkan sehingga yang disupervisi menyadari bahwa dia harus memperbaiki kesalahan. Yang disupervisi akan dengan senang hati melihat dan menerima bahwa ada yang harus diperbaiki. Caranya harus secara taktis pedagogis atau dengan perkataan lain, memakai bahasa penerimaan bukan bahasa penolakan.
b. Model Supervisi Ilmiah : Supervisi yang bersifat ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Dilaksanakan secara berencana dan kontinu, (2) Sistematis dan menggunakan prosedur serta teknik tertentu, (3) Menggunakan instrumen pengumpulan data, (4) Ada data yang objektif yang diperoleh dari keadaan yang riil. Dengan menggunakan merit rating, skala penilaian atau checklist lalu mahasiswa menilai proses kegiatan belajar-mengajar dosen di kelas. Hasil penilaian diberikan kepada dosen sebagai balikan terhadap penampilan mengajar dosen pada semester yang lalu. Data ini berbicara kepada dosen dan dosen kemudian mengadakan perbaikan. Penggunaan alat perekam data ini berhubungan erat dengan penilaian. Walaupun demikian, hasil perekam data secara ilmiah belum merupakan jaminan untuk melaksanakan supervisi yang lebih manusiawi.
c. Model Supervisi Klinis : Supervisi klinis adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan mengajardengan melalui siklus yang sistematik, dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional.Supervisi klinis adalah proses membantu dosen memperkecil kesenjangan antara tingkah laku rnengajar yang nyata dengan tingkah laku mengajar yang ideal.
d. Model Supervisi Artistik : Mengajar adalah suatu pengetahuan (knowledge), mengajar itu suatu keterampilan (skill), tapi mengajar juga suatu kiat (art). Sejalan dengan tugas mengajar , supervisi juga merupakan kegiatan mendidik sehingga dapat dikatakan bahwa supervisi adalah suatu pengetahuan, suatu keterampilan dan juga suatu kiat.Supervisi itu menyangkut bekerja untuk orang lain (working for the others), bekerja dengan orang lain (working with the others), bekerja melalui orang lain (working through the others). Dalam hubungan bekerja dengan orang lain maka suatu rantai hubungan kemanusiaan adalah unsur utama. Hubungan antar manusia dapat tercipta bila ada kerelaan untuk menerima orang lain sebagaimana adanya. Hubungan itu dapat tercipta bila ada unsur kepercayaan. Saling percaya, saling mengerti,saling menghormati, saling mengakui, saling menerima seseorang sebagaimana adanya.
2. Pendekatan Supervisi Pendidikan
Pendekatan berasal dari kata approach adalah cara mendekatkan diri kepada objek atau langkah-langkah menuju objek. Sudjana (2004) membagi pendekatan supervisi menjadi dua, yaitu: pendekatan langsung (direct contact) dan pendekatan tidak langsung (indirect contact). Pendekatan pertama dapat disebut dengan pendekatan tatap muka dan kedua , pendekatan menggunakan perantara, seperti melalui surat menyurat, media massa, media elekronik, radio, kaset, internet dan yang sejenis. Sementara dikenal juga pendekatan kolaboratif, yaitu pendekatan yang menggabungkan kedua pendekatan itu. (Aqib, Zainal dan Rohmanto, Elham : 2007).Pendekatan yang digunakan dalam menerapkan supervisi modern didasarkan pada prinsipprinsip psikologis. Suatu pendekatan atau teknik pemberian supervisi, sebenarnya juga sangat bergantung kepada prototipe orang yang disupervisi. Sahertian(2000) mengemukakan beberapa pendekatan, perilaku supervisor berikut :
a). Pendekatan langsung (direktif) Pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung. Supervisor memberikan arahan langsung, sudah tentu pengaruh perilaku supervisor lebih dominan. Pendekatan direktif ini berdasarkan pada pemahaman terhadap psikologis behaviouristis. Prinsip behaviourisme ialah bahwa segala perbuatan yang berasal dari refleks, yaitu respons terhadap rangsangan/ stimulus. Oleh karena dosen memiliki kekurangan, maka perlu diberikan rangsangan agar ia bisa bereaksi lebih baik. Supervisor dapat menggunakan penguatan (reinforcement)atau hukuman (punishment). Pendekatan seperti ini dapat dilakukan dengan perilaku supervisor seperti berikut ini : 1) Menjelaskan,2) Menyajikan,3) Mengarahkan,4) Memberi contoh,5) Menerapkan tolok ukur, dan 6) Menguatkan.
b). Pendekatan tidak langsung (Non-Direktif) Yang dimaksud dengan pendekatan tidak langsung (non-direktif) adalah cara pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung.Perilaku supervisor tidak secara langsung menunjukkan permasalahan,tapi ia terlebih dulu mendengarkan secara aktif apa yang dikemukakan oleh dosen. Ia memberi kesempatan sebanyak mungkin kepada yang disupervisi untuk mengemukakan permasalahan yang mereka alami. Pendekatan non-direktif ini berdasarkan pada pemahaman psikologis humanistik.Psikologi humanistik sangat menghargai orang yang akan dibantu. Oleh karena pribadi dosen yang dibina begitu dihormati, maka ia lebih banyak mendengarkan permasalahan yang dihadapi oleh dosen. Yang disupervisi mengemukakan masalahnya. Supervisor mencoba mendengarkan, dan memahami apa yang dialami. Perilaku Ketiga supervisor dalam pendekatan non-direktif adalah sebagai berikut :Mendengarkan, Memberi penguatan, Menjelaskan, Menyajikan, dan Memecahkan masalah.
c). Pendekatan kolaboratif Pendekatan kolaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara pendekatan direktif dan non-direktif menjadi suatu cara pendekatan baru. Pada pendekatan ini, baik supervisor maupun yang disupervisi bersama-sama bersepakat untuk menetapkan struktur proses dan kriteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi. Pendekatan ini didasarkan pada psikologi kognitif. Psikologi kognitif beranggapan bahwa belajar adalah perpaduan antara kegiatan individu dengan lingkungan yang pada gilirannya akan berpengaruh dalam pembentukan aktivitas individu. Dengan demikian, pendekatan dalam supervisi berhubungan pada dua arah yakni dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Perilaku supervisor dalam pendekatan ini adalah sebagai berikut , yakni :1) Menyajikan, 2) Menjelaskan, 3) Mendengarkan, 4) Memecahkan masalah, 5) Negosiasi. Pendekatan itu dilakukan dengan melalui tahap-tahap kegiatan pemberian supervisi sebagai berikut , yakni : 1) Percakapan awal (pre-conference), 2) Observasi, 3) Analisis/interpretasi, 4) Percakapan akhir (past - conference), 5) Analisis akhir, 6) Diskusi.
3. Teknik Supervisi
Teknik adalah suatu metode atau cara melakukan hal-hal tertentu.Suatu teknik yang baik adalah terampil dan cepat menurut ( Hariwung : 1989), seorang supervisor harus memilih teknik-teknik khusus yang serasi.Teknik sebagai suatu metode atau cara melakukan hal-hal tertentu. Suatu teknik yang baik adalah terampil dan cepat , teknik dipakai menyelesaikan tugas yang dikerjakan sesuai rencana, spesifikasi atau tujuan yang dikaitkan dengan teknik yang bersangkutan. Suatu teknik mungkin sederhana,misalnya menggunakan "mesin mimeograf" untuk menggandakan pengumuman atau laporan yang dikirimkan kepada dosen- dosen , atau teknik dapat lebih rumit, misalnya membantu mengevaluasi pekerjaan mereka. Jadi teknik supervisi adalah cara-cara khusus yang digunakan untuk menyelesaikan tugas supervisi dalam mencapai tujuan tertentu.Teknik supervisi adalah alat yang digunakan oleh supervisor untuk mencapai tujuan supervisi itu sendiri yang pada akhirnya dapat melakukan perbaikan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Teknik supervisi dapat dibagi menjadi dua macam , (a) Teknik Indivdual dan (b) Teknik Kelompok.
Teknik individual adalah teknik yang dilaksanakan oleh seorang dosen oleh dirinya sendiri, sedangkan teknik kelompok adalah teknik yang dilakukan oleh beberapa orang atau secara bersama- sama. Teknik individual terdiri atas, a) Kunjungan kelas,b) Observasi kelas,c) Percakapan pribadi,d) Inter visitasi,e) Penyeleksi berbagai sumber materi untuk belajar, dan f) Menilai diri sendiri. Teknik kelompok terdiri atas, a) Pertemuan orientasi bagi guru baru,b) Panitia Penyelenggara,c) Rapat Guru,d) Tukar menukar pengalaman, e) Lokakarya, f) Diskusi panel, g) Seminar, Simposium, h) Demontrasi mengajar. I) Perpustakaan jabatan, j) Buletin supervisi, k) Membaca langsung, l) Organisasi profesi, m) perjalanan sekolah.
Komentar
Posting Komentar